28 Agustus 2023

Mengulik Terapi Kombinasi Melawan Gagal Jantung dan Fibrilasi Atrium

Join Symposium 1 & 2 menghadirkan enam narasumber yang membawakan berbagai materi menarik.

InaHRS, Jakarta - Join Symposium 1 & 2 menghadirkan enam narasumber yang membawakan berbagai materi menarik. Ruangan pertama dipandu oleh moderator Chaerul Achmad, MD, PhD dan Muhammad Muqsith, MD dengan tema “Device & Intervention Therapies for Heart Failure.” Narasumber pertama, Muhammad Yamin, MD, PhD membawakan materi mengenai progres ICD/CRTD di Indonesia untuk 10 tahun kebelakang. Beliau menjelaskan perihal masalah penerapan teknik ICD/CRTD di Indonesia dari aspek biaya, sistem asuransi kesehatan, isu kurangnya pelatihan, dan kurangnya pusat implantasi secara merata. Walaupun demikian, CRT dan ICD telah dibuktikan efektif menurunkan angka mortalitas dan morbiditas. Sesi dilanjutkan dengan materi “Patient Selection in Implantable Cardioverter Defibrillator” oleh Beny Hartono, MD. Pemateri menjelaskan kepentingan terapi ICD di masyarakat untuk mengurangi mortalitas SCD. Pada pasien gagal jantung, ICD menjadi prevensi sekunder melalui polymorphic VT syncope dengan etiologi VT/VF yang diduga tinggi. Di sisi lain, seleksi pasien untuk prevensi primer menggunakan terapi ICD masih sulit dilaksanakan dengan adanya risiko dibalik keuntungan yang didapatkan. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman lebih lanjut melalui pemeriksaan genetik, EP testing, dan cMRI untuk menelaah manfaat ICD.

Narasumber terakhir di ruangan pertama, Giky Karwiky, MD, membawakan materi seputar resinkronisasi jantung. Disimfoni elektrik jantung banyak berasal dari blok cabang bundel yang paling lambat mengaktivasi bagian basal jantung. CRT merupakan tatalaksana yang efektif untuk pasien gagal jantung dengan disfungsi sistolik maupun keterlambatan konduksi listrik ventrikel. Namun, CRT bergantung dengan anatomy CS yang terkadang tidak memiliki pembuluh darah serta cabang yang akut sehingga tertendang. Dengan itu, banyak bermunculan metode implan terbaru seperti telescoping sheath. 

Simposium di ruangan kedua membahas “Atrial Fibrillation in Different Perspectives” dengan Ardian Rizal, MD dan Sumarni, MD sebagai moderator. Narasumber pertama adalah Antonia A. Lukito, MD, PhD yang membawakan materi berjudul “Unlocking Safety and Efficacy: Anticoagulant Strategies for Patients with Kidney Failure.” Materi dilanjutkan oleh Agung Fabian C., MD yang menjelaskan mengapa pasien dengan AF tidak direkomendasikan untuk melaksanakan terapi OAC. Beliau memaparkmaneldaeksfiannisi dan klasifikasi dari AF, sekaligus faktor risiko dan etiologi AF & stroke yang berasal dari virchow’s triad. Narasumber juga membahas mengenai perkembangan obat antikoagulan dari tahun 1992 hingga 2013 yang masing-masing memiliki profil keamanan berbeda-beda untuk tiap pasien. Narasumber terakhir, Budi Baktijasa Dharmadjati, MD, PhD, membawakan materi perbedaan terapi antitrombotik ganda dan rangkap tiga pada pasien penyakit arteri koroner (CAD) dengan fibrilasi atrium (AF). Sebagai konklusi, oral anticoagulant-OAC ditambah dengan single anti platelet lebih efektif dalam menyembuhkan pasien CAD dengan AF, dibandingkan dengan oral anticoagulant dan dual antiplatelet. Obat tersebut direkomendasikan untuk tidak dikonsumsi selama lebih dari 30 hari, dengan dosis aspirin kurang dari 100 mg setiap harinya.